Lindungi bunga rafflesia dan hutan Indonesia: The Jakarta Post
Di tengah kesuraman yang mewarnai berbagai peristiwa global belakangan ini, berita langka, positif, namun tajam, muncul dari sebuah hutan di Sumatera Barat. Rafflesia hasseltii , bunga parasit dari genus yang sama dengan Rafflesia arnoldii yang terkenal di dunia , baru-baru ini ditemukan kembali di sebuah hutan kemasyarakatan di Kabupaten Sijunjung.
Ekspedisi ini melibatkan konservasionis lokal yang bekerja bersama ahli botani dari Badan Penelitian dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Oxford di Inggris.
Meskipun relatif lebih kecil daripada sepupunya , arnoldii , penampakan langka ini sungguh menakjubkan. Seperti varian lain sejenisnya, Rafflesia hasseltii yang bersifat parasit membutuhkan kondisi khusus dari inang dan lingkungannya untuk tumbuh selama berbulan-bulan, dan hanya mekar kurang dari seminggu. Oleh karena itu, menangkap bunga yang sedang mekar penuh merupakan keberuntungan luar biasa bagi para peneliti.
Yang membuat penemuan kembali ini semakin menarik adalah kisah Septian Andriki, seorang konservasionis dan penggemar rafflesia dari Bengkulu, daerah yang dikenal sebagai “Negeri Rafflesia “. Kerja kerasnya selama 13 tahun dalam mengidentifikasi dan memetakan rafflesia di seluruh Sumatera akhirnya membuahkan hasil, yaitu kesempatan langka untuk menyaksikan spesies ini secara langsung.
Di luar keindahan botaninya, penampakan bunga hasseltii menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan konservasi dan reboisasi hutan untuk melindungi setidaknya 16 spesies Rafflesia yang telah ditemukan di Indonesia sejauh ini. Seiring hilangnya hutan yang menjadi rumah bagi tanaman merambat inangnya, Rafflesia hanya memiliki sedikit ruang untuk tumbuh.
Situasi di hutan masyarakat Sumpur Kudus, tempat Septian menemukan hasseltii , sangat memprihatinkan. Penambangan emas ilegal dan perkebunan kelapa sawit merajalela di wilayah tersebut. Deforestasi masih menjadi penyebab utama kekhawatiran.
Auriga Nusantara, misalnya, telah mencatat laju deforestasi tertinggi di Indonesia sejak 2021. Menurut pelacakan terbaru mereka, Indonesia kehilangan 261.575 hektar (empat kali luas Jakarta) pada tahun 2024, melonjak 1,6 persen dari tahun sebelumnya. Temuan Auriga khususnya penting karena mengidentifikasi bahwa gelombang pembukaan lahan baru ini sebagian besar legal, membalikkan tren historis perusakan hutan ilegal.
Penemuan kembali Rafflesia seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengintensifkan upaya konservasi alam. Salah satu langkah yang layak adalah yang dikampanyekan Septian: menyediakan mata pencaharian alternatif bagi mereka yang tinggal di sekitar hutan.
Alih-alih menebang pohon untuk diambil kayunya, masyarakat dapat memanfaatkan lokasi Rafflesia sebagai objek wisata ekologi. Hal ini akan memberikan keuntungan finansial sekaligus memberikan insentif bagi konservasi hutan untuk memastikan bunga-bunga tersebut mekar bagi pengunjung di masa mendatang.
Sayangnya, kemenangan penampakan hasseltii dibayangi oleh kekhawatiran kolonialisme akademis, yang dipicu oleh unggahan media sosial Universitas Oxford yang gagal mengakui peran Septian dan peneliti Indonesia lainnya dalam penemuan tersebut.
Meskipun Oxford telah berupaya memperbaiki kesalahan tersebut dengan menyoroti kolaborasi mereka dengan para peneliti Indonesia, Filipina, dan Malaysia, kerusakan telah terjadi. Insiden tersebut membuka kotak Pandora trauma sejarah, mengingatkan kita pada masa ketika negara-negara di belahan bumi selatan seperti Indonesia diperlakukan hanya sebagai laboratorium lapangan, alih-alih mitra setara dalam produksi pengetahuan.
Meskipun kami mendesak Oxford untuk menghapus perspektif kolonial ini, pemerintah juga bertanggung jawab untuk lebih mendukung para penelitinya di panggung global. Hanya dengan menyediakan infrastruktur dan pendanaan penelitian yang memadai, para akademisi kita dapat berdiri sejajar dengan rekan-rekan mereka di Barat, alih-alih merasa rendah diri. Indonesia memiliki salah satu anggaran penelitian terendah di dunia, yaitu 0,2 persen dari PDB.
Di dalam negeri, dekolonisasi akademis dimulai dengan pendanaan. Kita harus memberdayakan para peneliti untuk menghasilkan pengetahuan yang sesuai dengan konteks kita, mengurangi kebutuhan untuk bergantung pada dukungan finansial dari lembaga-lembaga Barat yang seringkali kurang menghormati para akademisi Indonesia.
Masyarakat umum, bahkan ilmuwan berpengalaman sekalipun, akan selalu terkesima dengan penampakan Rafflesia yang sedang mekar . Namun, kita tidak boleh lupa bahwa tanaman ini, dengan sifatnya yang fana, merupakan pengingat bagi lembaga-lembaga domestik dan internasional untuk bekerja lebih keras.